Prof Affendi Tolak Teken Tesis Kaban karena Tak Penuhi Syarat

12/09/2007 10:06 WIB Umi Kalsum – detikcom

Jakarta – Prof Affendi Anwar, mantan pembimbing tesis Menhut MS Kaban, merasa ‘dijebak’ mantan Dekan Pascasarjana IPB Sjafrida Manuwoto saat diminta membimbing Kaban menyelesaikan tesis yang sudah kadaluwarsa.

Affendi mengira Kaban siap memperbaiki tesisnya dengan memasukkan perkembangan keilmuan terakhir dalam obyek penelitiannya, Taman Nasional Gunung Leuser.

Sebab setelah penelitian Kaban tahun 1993 lalu, taman ini sudah mengalami banyak perubahan, mulai dari banjir bandang Sungai Bohorok sampai penduduk yang membuka lahan sawit. Kenyataannya, tesis Kaban masih sama dengan 13 tahun lalu.

Sayangnya, arahan setebal 15 halaman yang disampaikan kepada Kaban, tidak dijalani. “Dulu kan lulusnya dengan syarat, harus diperbaiki. Waktu diminta jadi pembimbing saya kayak dijebak, katanya dia siap perbaiki,” kata Affendi kepada detikcom, Jumat 7 September 2007.

Affendi mengaku bersedia membimbing Kaban jika Ketum Partai Bulan Bintang itu menerima arahannya, yakni mengikuti perkembangan ilmu mengingat sudah 13 tahun tesis itu mandeg. Antara lain mengikutsertakan masyarakat dalam pengelolaan hutan.

“Ada 4 arahan saya, tapi karena dia tidak mampu, ya nggak dikerjakan. Ujiannya kan sudah 13 tahun lalu, sudah kadaluwarsa. Mestinya ditolak. 3 Semester saja (kadaluwarsa), sebetulnya sudah out,” katanya.

Kaban selalu melontarkan alasan, arahannya sulit dilakukan, apalagi dia merasa latar belakang pendidikannya manajemen, bukan ekonomi. “Padahal kalau serius pasti bisa, saya bimbing menteri bukan sekali ini saja,” katanya.

Affendi sempat meminta Kaban membuat skenario mengembangkan hutan dengan menggandeng masyarakat. “Tapi dia tidak bikin, saya bilang tesis kamu seolah-olah solusi yang benar untuk hal yang salah,” katanya.

Dia pun menolak menandatangani tesis perbaikan Kaban. Sikap Affendi diikuti Ketua Pascasarjana Program Studi Ilmu-ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PS PWD) Prof Ir Isang Gonarsyah PhD. “Karena ketua program tidak mau tanda tangan, geger semua orang,” katanya.

Alasan ketua PS PWD tidak bersedia menandatangani tesis Kaban cukup beralasan. “IPB itu harus beri pencerahan bagaimana sebaiknya memperbaiki masalah pertanian. Ini malah malah penyakit masyarakat singgah di IPB,” katanya.

Namun untuk memuluskan tesis Kaban, pihak dekan akhirnya menunjuk Lutfi Ibrahim Nasution sebagai pembimbing Kaban dan Agus Pakpahan sebagai anggotanya.

“Padahal Lutfi nggak ngerti kehutanan, nggak pada tempatnya. Dia tidak pernah datang kalau dipanggil rektor, sudah 3 kali dia tidak datang. Eh malah dialihkan ke dia,” katanya.

Karena alasan tersebut, Affendi mengaku berhak tidak menandatangani tesis tersebut. “Saya yang punya kewenangan. Saya bilang kalau kalian, rektor dan dekan, mau ngelulusin silakan saja. Tapi saya berhak menolak berdasarkan akademik maupun etika,” katanya.

Affendi menegaskan, setuju penyelesaian masalah tesis Kaban ini dilakukan lewat Komisi Kehormatan Akademik.

Jarang Konsultasi

Affendi juga menyesalkan sikap Kaban yang jarang berkonsultasi. Dia malah mewakilkan konsultasi kepada pihak lain, Direktur Sinar Mas Group Suwarso dan Hermanto Siregar, sahabat Kaban sewaktu di SMK, Medan.

Hermanto yang merupakan Direktur Akademik Sekolah Bisnis dan Manajemen (SMB) IPB , kata dia, sebetulnya asistennya sendiri.

“Saya dengar dia dekat dengan Kaban, adik kelas di Medan. Supaya dia mengerti, dia saya undang mendengarkan pengarahan saya yang 15 halaman. Saya juga kasih ayat Alquran, supaya menghargai ilmu,” kata dia.

Soal konsultasi yang dilakukan kedua orang tersebut, Affendi khawatir tesis tersebut tidak dikerjakan sendiri oleh Kaban.

Tidak hanya itu, untuk memuluskan selesainya tesis, Affendi juga pernah dicoba disuap Rp 10 juta yang diselipkan di tesis Kaban oleh Suwarso.

“Saya lalu kirim SMS, ini uang apa. Katanya, buat Bapak. Karena saya gemuk, saya disuruh beli treatmill, saya tidak butuh treatmill. Saya bilang saya tidak berhak menerima, uang itu lalu saya salurkan ke baitul mal,” katanya.

Affendi mengaku menolak menandatangani tesis Kaban karena tidak memenuhi syarat akademik karena enggan mengikuti arahannya. Sejumlah upaya pun dilakukan agar dia bersedia meneken tesis tersebut.

“Dekan datang ke rumah saya dengan istrinya. Istrinya bawa baju-baju untuk istri saya. Istri saya bilang buat apa, saya kan sudah tua,” katanya. (umi/nrl)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: