Sejarah Panjang Gempa Bumi di Indonesia

Updated: Sabtu, 27 Mei 2006, 18:13 WIB Kompas Jakarta, Sabtu  Wilayah Indonesia, seperti yang disampaikan oleh sejumlah ahli di bidang geologi dan geografi, berlokasi di kawasan yang rawan gempa. Pasalnya, Indonesia terletak pada lajur sumber gempa bumi yang membentang sepanjang tidak kurang dari 5.600 km mulai dari Andaman sampai ke Busur Banda Timur.
   
Lajur kemudian menerus ke wilayah Maluku hingga Sulawesi Utara. Daerah-daerah sepanjang pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa, NTB dan NTT serta Maluku merupakan daerah rawan gempa bumi dan tsunami.
   
Dari situs Badan Meteorologi dan Geofisika, Sabtu, sejak April 2006 hingga 27 Mei 2006 saja tercatat 30 kali terjadi gempa yang dirasakan oleh masyarakat.
   
Kekuatan gempa yang terjadi dalam jangka waktu kurang dari satu bulan itu rata-rata antara 4,2 skala richter hingga 5,9 skala richter termasuk yang terjadi di sekitar Yogyakarta dan Klaten pada Sabtu (27/5) pukul 05.53 WIB.
   
Gempa adalah sentakan asli pada kulit bumi sebagai gejala penggiringan dari aktifitas tektonisme maupun vulkanisme dan kadang-kadang runtuhan bagian bumi secara lokal.
   
Yang dapat dirasakan pada saat gempa bumi terjadi adalah getaran bumi tempat kita berada pada saat itu. Bumi bergoyang ke samping dan ke atas. Itulah gelombang gempa yang sampai ke tempat kita. Pada waktu mengalami gempa kita tidak tahu dari mana gempa itu datang, sehingga kita tidak tahu ke arah mana harus lari untuk menjauhi sumber gempa.
   
Dosen Fakultas MIPA Jurusan Fisika Universitas Tanjungpura M Hajianto, dalam salah satu artikel pada 9 Januari 2005, menjelaskan terdapat tiga gelombang gempa yaitu Gelombang longitudinal, Gelombang Transversal dan Gelombang panjang atau gelombang permukaan.
   
Gelombang longitudinal yaitu gelombang gempa yang merambat dari sumber gempa ke segala arah dengan kecepatan 7 – 14 km per detik. Gelombang ini pertama dicatat dengan seismograf dan yang pertama kali dirasakan orang di daerah gempa, sehingga dinamakan gelombang primer.
   
Gelombang Transversal yaitu gelombang yang sejalan dengan gelombang primer dengan kecepatan 4 – 7 km per detik, dinamakan juga gelombang sekunder.
   
Gelombang panjang atau gelombang permukaan, yaitu gelombang gempa yang merambat di permukaan bumi dengan kecepatan sekitar 3,5 – 3,9 km per detik. Gelombang inilah yang paling banyak menimbulkan kerusakan.
   
Dalam gempa bumi yang melanda kawasan Yogyakarta, Klaten dan sekitarnya itu sempat mencuat isu tentang terjadinya tsunami.  Tsunami memang menjadi peristiwa yang begitu traumatis bagi masyarakat Indonesia terutama sejak terjadinya peristiwa tersebut di Nias dan Aceh pada 26 Desember 2004. 
   
Dalam 100 tahun terakhir pada periode 1901 -2000, tidak kurang dari 75 tsunami terjadi di Indonesia. Sebanyak 85 persen bencana tsunami itu atau 64 peristiwa terjadi di wilayah timur Indonesia.
   
Bencana tsunami menyebabkan ribuan korban manusia, di antaranya adalah tsunami Flores 1992 (korban 2.100 orang), Banyuwangi 1994 (korban 238 orang), dan Biak 1996 (korban 160 orang).
   
Sejak tahun 1965 hingga 2000, Tsunami telah melanda sejumlah daerah di Indonesia yakni Seram, Maluku (1965); Tinambung, Sulawesi (1967); Tambu, Sulawesi (1968), Majene, Sulawesi (1969): Sumba (1977): Larantuka (1982); Flores (1992); Banyuwangi (1994); Palu (1996); Biak (1996); Taliabu, Maluku (1998); dan Banggai (2000).
   
Catatan The International Institute of Seismology and Earthquake Engineering, dalam kurun waktu 15 tahun, yaitu antara 1 Januari 1970 hingga 31 Desember 1984, telah terjadi 6148 kali gempa bumi yang besarnya 4-7 SR atau rata-rata terjadi 413 kali gempa dalam satu tahunnya.
   
Sedangkan gempa yang kuat atau memiliki besar lebih dari 5 SR sehingga dapat merusak bangunan, rata-rata terjadi satu hingga dua kali dalam setahun.
   
Pusat gempa bumi yang ada di Indonesia pada umumnya berada di sepanjang barat Pulau Sumatera, Selat Sunda, Jawa bagian selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat-Timur, Maluku, sisi utara dan barat Papua dan Sulawesi terutama Sulawesi Utara.
   
Sedangkan dampak kerusakan bangunan akibat gempa kuat ialah bangunan penduduk, yaitu bangunan yang dibangun dengan metode konstruksi sederhana atau tradisional, tanpa menggunakan teknologi konstruksi dan analisa struktur bangunan yang tahan gempa.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: