Seluruh Indonesia Berpotensi Gempa

Jumat, 16 Juni 2006 Lipi.go.id  Danny Hilman Natawidjaja, Ketua Tim Peneliti Gempa Bumi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia:

Nama Danny Hilman Natawidjaja kembali mencuat ketika gempa bumi melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei silam. Ia menarik perhatian para peneliti gempa karena dalam sebuah konferensi internasional di Yogyakarta pada akhir April 2006 meramalkan Yogyakarta bakal diguncang gempa tektonik berskala besar.

Sayang, peringatan Danny itu bak angin lalu. Perhatian orang ketika itu sedang tersedot ke Gunung Merapi, yang sedang bersiap memuntahkan lahar. Sebulan kemudian, gempa yang diramalkan itu menjadi kenyataan.

Ini bukan untuk yang pertama kalinya lelaki 45 tahun itu dicari banyak orang. Ketika gempa dan tsunami menyapu Nanggroe Aceh Darussalam pada 26 Desember 2004, peneliti asal Subang, Jawa Barat, ini menjadi narasumber nomor satu.

Disertasinya berjudul Sumatran Fault and Paleogeodesy of the Sumatran Subduction Zone dipakai sebagai referensi. Penelitian itu mengungkap sejarah gempa selama lebih dari 300 tahun di pesisir barat Pulau Sumatera, yang terekam pada terumbu karang mikroatol.

Jejak gempa besar, yang potensial melanda Sumatera, terdeteksi lewat pola pertumbuhan terumbu karang di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Gempa terakhir yang pernah melanda kepulauan ini terjadi pada 1833.

Danny memperkirakan, gempa serupa akan berulang dalam kurun 50 tahun. Meski posisi episentrum gempa tidak terlalu tepat, ramalan Danny menjadi kenyataan. Lindu melanda Simeulue, Nanggroe Aceh Darussalam pada akhir 2004. “Saya bergerak di prediksi jangka panjang, khususnya periode ulang gempa. Biasanya 50 persen akurat,” kata Danny.

Gempa yang bertubi-tubi melanda negeri ini membuat Danny sibuk bukan main. Pekan silam, ia harus bertolak ke Simeulue untuk meneliti mikroatol selama sebulan. Beberapa jam sebelum bertolak ke Simeulue, Danny menerima wartawan Tempo, Ami Afriatni, dan fotografer Fransiskus untuk sebuah wawancara khusus di lobi Laguna Tower Hotel Hilton, Jakarta, pada Selasa sore pekan silam.

Sore itu ia tampil santai dengan kaus polo dan celana denim. Doktor dari California Institute of Technology, Amerika Serikat, ini menjawab setiap pertanyaan dengan kalimat singkat dan cerdas.

Beberapa waktu lalu Anda pernah memprediksi akan terjadi gempa besar di Yogyakarta. Kapan Anda menyampaikan ramalan itu?

Pada 24 April lalu, ada konferensi internasional tentang geotechnical hazard di sebuah hotel di Yogyakarta. Konferensi itu diadakan oleh LIPI, dihadiri banyak peserta, termasuk dari Jepang. Saya sebenarnya harus mempresentasikan soal gempa secara umum, bukan hanya gempa di Jawa. Namun, karena waktunya bertepatan dengan Merapi, saya presentasikan tentang gempa Yogyakarta.

Bagaimana tanggapan forum saat itu?

Sepi-sepi saja. Waktu itu semua orang lebih tertarik pada Merapi.

Bagaimana Anda memprediksi bahwa akan terjadi gempa besar di Yogyakarta?

Kalau kita membaca sejarah, di Yogyakarta pada 1867 pernah terjadi gempa yang lebih hebat dibanding yang kemarin. Dari catatan, terjadi guncangan selama dua menit. Padahal gempa yang lalu hanya 57 detik. Saat itu dilaporkan rumah penduduk dan pabrik tebu hancur. Kekuatannya pasti lebih dari 6,2 skala Richter. Prediksi saya, mungkin lebih dari 7,5 skala Richter karena guncangannya lebih dari dua menit.

Gempa pada 1867 itu juga memakan banyak korban jiwa?

Korban yang meninggal di Yogyakarta saja saat itu sekitar 500 orang. Kalau kita lihat daerah kerusakannya, mirip dengan yang sekarang, yaitu mulai Bantul hingga Klaten. Ini berarti ada sumber gempa. Jika ada sumber gempa, pasti akan berulang. Saya perkirakan sumber gempa di Yogyakarta justru bukan di laut, tapi di darat.

Berapa lama siklus gempa di Yogyakarta?

Jarak dari gempa pertama pada 1867 hingga gempa berikutnya pada 2006 berarti sekitar 130 tahun. Perkiraan saya, kalau pergerakan lempengnya sekitar 50 milimeter per tahun saja, berarti selama 130 tahun terkumpul sekitar 60 sentimeter. Itu setara dengan 6,2 skala Richter. Perlu penelitian lagi. Saya sendiri belum melakukan penelitian gempa sehingga belum ada data primer. Hanya dari referensi sejarah dan makalah-makalah yang sudah ada.

Apakah Anda juga memperkirakan akan ada gempa susulan?

Gempa susulan pasti ada setelah gempa utama. Tapi lebih kecil. Semakin lama makin menghilang. Seperti sekarang, sepertinya sudah tidak ada gempa susulan lagi.

Anda sudah menyampaikan prediksi gempa di Yogyakarta ini kepada pemerintah?

Kalau melalui seminar-seminar umum dan forum-forum ilmiah, saya sering cerita tentang potensi gempa. Tapi belum pernah saya sampaikan kepada Bakornas (Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi). Saya juga belum pernah berkirim surat ke Presiden, Wakil Presiden, atau DPR atas nama institusi. Saya kira ke depannya perlu.

Apa faktor-faktor penting dalam menentukan siklus gempa?

Perlu ada penelitian lanjutan, misalnya kekuatan gempa dan kecepatan pengumpulan tektonik per tahun. Dari situ bisa diperkirakan periode ulang.

Apa saja alat-alat yang dibutuhkan untuk mengukur gempa?

Bisa menggunakan GPS (global positioning system) dan seismograf. Bisa juga dilihat dari pola pertumbuhan terumbu karang.

Apa yang menarik dari pola pertumbuhan terumbu karang?

Pola pertumbuhan terumbu karang merekam pergerakan vertikal kerak bumi. Saat periode antargempa, seperti di Simeulue dan Nias, koral akan turun perlahan-lahan. Waktu terjadi gempa, terumbu akan terangkat sekaligus. Terumbu dapat merekam sampai ratusan tahun. Itu kelebihan perekam alam. GPS tidak dapat merekam pergerakan vertikal dan horizontal. GPS dapat merekam paling lama hanya 10 tahun.

Bagaimana dengan Sumatera? Anda juga pernah meramalkan akan terjadi gempa di Bengkulu pada 2000?

Kami sering menghadiri seminar dan mengatakan, Sumatera sangat berpotensi terjadi gempa dan tsunami. Setelah gempa di Aceh, Nias paling rawan karena sumber gempanya bersebelahan. Di dunia ada istilah sumber gempa yang satu berinteraksi dengan sumber gempa yang lain. Jika gempa yang satu lepas, akan menendang yang sebelahnya. Terbukti jaraknya ke gempa Nias hanya tiga bulan. Setelah dua gempa itu terjadi, yang kami khawatirkan berikutnya daerah di sebelahnya, yaitu Sumatera Barat dan Bengkulu, yang padat populasinya.

Apakah gempa tersebut dapat mengakibatkan tsunami?

Menurut data terakhir dari GPS dan terumbu di daerah itu, bila terjadi gempa dan tsunami, bencananya bisa lebih besar daripada Aceh. Ketinggian gelombang bisa mencapai 7 hingga 8 meter. Sementara itu, di Aceh saja sudah 3 hingga 4 meter. Padahal Kota Padang yang populasinya lebih besar daripada Banda Aceh terletak sekitar 8 meter dari permukaan laut. Bengkulu juga rawan. Untuk Sumatera, hasil penelitian sudah kuat karena dilakukan selama 10 tahun.

Apakah ada gejala alam yang mudah dimengerti oleh orang awam untuk memprediksi terjadinya gempa?

Secara umum susah, bahkan ahlinya sekalipun. Jangankan di Indonesia, di negara lain dengan peralatan mendukung sekalipun susah. Amerika Serikat dan Jepang saja kemungkinan prediksi masih 50 : 50, bahkan kurang. Spekulasinya kurang. Ilmu pengetahuan belum sampai meramal gempa. Itulah perlunya pemetaan daerah gempa.

Anda memiliki peta gempa di Indonesia?

Punya tapi belum komplet. Bekerja sama dengan United States Agency for International Development (USAID), United States Geological Survey (USGS), dan California Institute of Technology, kami sedang membuat peta gempa di Sumatera, Jawa, dan Bali. Rencananya, September nanti selesai. Penelitian dibiayai USAID melalui USGS.

Mengapa hanya Sumatera, Jawa, dan Bali? Apakah bagian timur Indonesia tidak berpotensi juga terjadi gempa?

Inginnya sih seluruh Indonesia. Pihak USAID yang memberi biaya proyek penelitian di daerah Kalimantan, Jawa, dan Sumatera. Sebenarnya seluruh Indonesia berpotensi terjadi gempa bumi.

Seberapa akurat prediksi Anda tentang gempa bumi?

Saya bergerak di prediksi jangka panjang, khususnya periode ulang gempa. Biasanya 50 persen akurat. Cukup banyaklah. Misalnya, saya memprediksi periode ulang gempa Mentawai 230 tahun plus-minus 70 tahun. Gempa tidak seperti mesin yang presisinya tinggi.

Anda akan melakukan penelitian lagi di Sumatera. Apa saja yang akan diteliti?

Ada tiga penelitian utama: tentang terumbu karang, endapan pariatsunami di pantai, termasuk tsunami kemarin. Kami juga akan meneliti tsunami yang terjadi sebelumnya, yaitu pada 1907. Kami ingin tahu seberapa sering tsunami terjadi.

Sumber gempa yang terjadi di Sumatera biasanya ada di mana?

Di Aceh sumber gempa berada di bawah laut, yaitu di bawah Kepulauan Simeulue hingga Kepulauan Andaman, bahkan hingga ke palung. Akibatnya, gempa di Sumatera pasti selalu diikuti tsunami. Sebab, jika terjadi gempa, dasar laut terangkat beberapa meter ke atas. Air laut terdorong ke atas membubung menjadi tsunami.

Berapa lama siklus gempa di Sumatera?

Berbeda-beda untuk tiap daerah. Di Mentawai, siklusnya sekitar 230 tahun, di Nias 200-300 tahun. Adapun di Aceh lebih lama lagi, lebih dari 500 tahun. Sejarah gempa di Sumatera saja mulai dicatat sejak 1700-an.

Bagaimana peralatan pendeteksi gempa di Indonesia?

Dalam hal kuantitas, jelas ketinggalan jauh dibanding Amerika dan Taiwan. Teknologinya juga ketinggalan. Untuk seismograf saja, Indonesia hanya memiliki kurang dari 30 unit, sekitar 27 di antaranya ada di Sumatera. Perbandingannya, untuk wilayah bagian selatan California saja atau setara dengan luas Sumatera, Amerika menempatkan 250 seismograf modern. Jepang lebih gila lagi. Jumlah seismografnya lebih dari 1.000.

Idealnya, berapa jumlah alat pedeteksi gempa untuk wilayah Indonesia?

Seperti yang dimiliki California, sekitar 250. Karena prinsipnya, semakin rapat penempatan alatnya, maka hasilnya akan semakin teliti. Seluruh Indonesia perlu seismograf. Pemasangan disesuaikan dengan potensi gempa.

Kawasan mana saja yang paling memerlukan seismograf?

Saat ini yang sangat perlu dipasang adalah di segmen Mentawai, Padang, dan Bengkulu. Untuk Pulau Jawa, bagian selatan Jawa perlu dipasangi. Di Jawa Barat dan DKI Jakarta sudah ada GPS. Di Yogyakarta tidak ada GPS. Yang ada hanya monumen yang diukur secara berkala dan belum begitu banyak. Saya pernah lihat hasil pengukuran GPS Bakosurtanal untuk gempa Yogyakarta sangat tidak mencukupi.

Belum lama ini beredar kabar bahwa akan terjadi gempa hebat melanda Pulau Jawa. Tanggapan Anda?

Memang simpang-siur. Prediksi tentang gempa di Jawa belum ada. Belum tahu persis karakterisasinya karena belum ada penelitian gempa dan tsunami di Jawa.

Anda bersikap kritis pada Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi. Menurut Anda, bagaimana kinerja mereka?

Bakornas saat ini sangat tidak efektif. Awalnya cukup bagus dan cepat. Sekarang tidak lagi karena banyak anggaran yang dipangkas. Satu lagi yang saya sesalkan, Bakornas bekerja hanya untuk penanggulangan bencana, yaitu ketika bencana telah terjadi. Padahal tugas Bakornas tidak hanya itu, justru harus menyiapkan mitigasi dan antisipasi.

Sumber : Koran Temo (11 Juni 2006)

Sumber : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (http://www.lipi.go.id)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: